Kesehatan Reproduksi Remaja : Permasalahan dan Upaya Pencegahan

Masa remaja merupakan keliru satu dari periode pertumbuhan manusia, Masa ini merupakan era perubahan atau peralihan dari era kanak – kanak ke era dewasa yang meliputi perubahan biologis, psikologis, dan social. Usia remaaj kebanyakan di awali pada umur 10 -13 th. dan berakhir pada umur 18 – 22 tahun. Sedangkan menurut WHO remaaj merupakan individu yang sedang mengalami era peralihan yang secara berangsur – angsur meraih kematangan seksual, mengalami perubahan jiwa dari jiwa anak – anak jadi dewasa, dan mengalami perubahan situasi ekonomi dari ketergantungan jadi relative mandiri. Ada dua aspek pokok dalam perubahan pada remaja, yaitu perubahan fisik atau biologis dan perubahan psikologis.

Masa remaja di awali bersama dengan pertumbuhan yang terlampau cepat dan kebanyakan disebut pubertas. Dengan ada perubahan yang cepat itu terjadilah perubahan fisik yang dapat dilihat seperti bertambahnya tinggi dan berat badan yang biasa disebut pertumbuhan, dan kematangan seksual sebagai hasil perubahan hormonal

Masa remaja termasuk adalah era transisi pada era kanak – kanak dan era dewasa. Masa transisi seringkali menghadapkan individu yang terkait pada situasi yang membingungkan, disatu pihak tetap kanak – kanak dan dilain pihak ia wajib bertingkah laku seperti orang dewasa. Hal ini dapat menyebabkan konflik dalam diri remaja yang kerap menyebabkan banyak tingkah laku yang aneh, canggung, dan kalau tidak dikontrol akan menyebabkan kenakalan pada remaja keliru satunya berupa risiko tabiat seksual berisiko.

Perilaku seksual merupakan keliru satu wujud judi bola terpercaya tabiat manusia yang terlampau terkait bersama dengan kesegaran reproduksi seseorang. Secara umum terdapat 4 (empat) aspek yang terkait bersama dengan kesegaran reproduksi, yaitu :

1. Faktor Sosial ekonomi, dan demografi. Faktor ini terkait bersama dengan kemiskinan, tingkat pendidikan yang rendah dan ketidaktahuan berkenaan pertumbuhan seksual dan sistem reproduksi, serta lokasi daerah tinggal yang terpencil

2. Faktor budaya dan lingkungan, pada lain adalah praktik tradisional yang berdampak jelek pada kesegaran reproduksi, keyakinan banyak anak banyak rejeki, dan Info yang membingungkan anak dan remaja berkenaan fungsi dan sistem reproduksi

3. Faktor psikologis, keretakan orang tua akan beri tambahan dampak pada kehidupan remaaj, depresi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan hormonal

4. Faktor biologis, pada lain cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi, dan sebagainya

Pengaruh Info world (paparan tempat audio-visual) yang tambah enteng dibuka justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiaasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman berakohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antar-remaja atau tawuran (Iskandar, 1997). Pada akhirnya, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan berikut akan mempercepat umur awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada rutinitas berperilaku seksual yang berisiko tinggi, gara-gara kebanyakan remaja tidak miliki ilmu yang akurat berkenaan kesegaran reproduksi dan seksualitas serta tidak miliki akses pada Info dan layanan kesegaran reproduksi, termasuk kontrasepsi.